News Update :

4.3 EKMA4313 Akuntansi Keuangan Menengah II

Sabtu, 04 Mei 2013


Inisiasi  I

PEROLEHAN AKTIVA TETAP
BERWUJUD
(Pendalaman Materi dari Modul I)

1. Aktiva tetap berwujud diperoleh dari pembelian.
Ada 4 alasan membeli aktiva berwujud, yaitu:
1)     Mengharapkan adanya penghematan
2)    Memanfaatkan fasilitas yang menganggur
3)    Mendapatkan suatu aktiva tetap berwujud dengan kualitas baik
4)    Tidak ada pihak lain yang bisa menyediakan aktiva tetap berwujud yang dibutuhkan sesuai dengan kriteria yang diinginkan perusahaan

a. Pembelian aktiva tetap berwujud secara tunai.
Harga aktiva tetap berwujud yang diperoleh dari pembelian tunai adalah sebesar seluruh pengeluaran kas untuk mendapatkan aktiva tetap berwujud tersebut hingga siap digunakan.
Contoh:
PT. Alfa membeli 1 unit  komputer pada tanggal 12 April 2005 seharga Rp5.000.000,- dengan termin 3/10, n/30. Biaya administrasi pembelian komputer adalah Rp50.000,- yang meliputi PPN dan biaya pengantaran barang.

1      Jurnal apabila PT. Alfa melakukan membayar sebelum tanggal 22 April 2005 adalah:
Komputer........................................Rp 4.900.000,-
     Kas.................................................................... Rp 4.900.000,-
Perhitungan:
     Harga faktur                                      :  Rp 5.000.000,-
     Potongan tunai= 3%xRp5.000.000,-      : (Rp    150.000,-)
     Biaya pembelian                                  :  Rp      50.000,-
     Harga perolehan komputer                     Rp 4.900.000,-

2     Jurnal apabila PT. Alfa melakukan membayar antara tanggal 22 April 2005 sampai 12 Mei 2005 adalah:
Komputer................................................. Rp 4.900.000,-
Rugi tidak memanfaatkan potongan...Rp    150.000,-
     Kas....................................................................................Rp5.050.000,-
Catatan : Jika dalam transaksi pembelian terdapat persyaratan atau termin kita harus memahami makna termin tersebut dan dalam perhitungan transaksi harus melibatkan termin dengan pengaruh laba atau rugi memanfaatkan diskon. Tapi jika dalam transaksi tidak ada termin maka langsung pada nilai yang tertera dalam transaksi tersebut. Pengayaan tentang termin:
Contoh pembelian seperangkat furnitur tanggal 20 Agustus 2007, seharga Rp 12.500.000, dan biaya angkut dan pasang Rp 500.000, dengan termin 5/10, n/30. Termin ini bermakna pembeli akan diberi diskon jika pembayaran dilakukan sebelum tanggal 30 Agustus 2007, melewati tanggal tersebut sampai dengan hari ke 30 pembeli tidak memanfaatkan diskon yang diberikan hingga harus di catat rugi tidak memanfaatkan diskon. Pencacatan seperti contoh di atas.
b. Pembelian aktiva tetap berwujud secara angsuran
Harga jual secara kredit atau angsuran lebih besar dibandingkan secara tunai, karena ada unsur bunga. Unsur bunga ini harus diperlakukan sebagai biaya bunga selama periode mengangsur.
Ada 2 keadaan yang berkaitan dengan unsur bunga ini, yaitu:
1.     Bunga dinyatakan secara eksplisit.
Contoh:
PT. Biru membeli membeli mobil secara kredit dengan harga beli secara tunai sebesar Rp 25.000.000,-. Pembayaran pertama saat penyerahan mobil pada tanggal 8 Januari 2005 sebesar Rp10.000.000,-. Kekurangannya diangsur sebanyak 3 kali setiap tanggal 31 Desember 2005 dengan beban bunga 10%/tahun dari saldo utang.
Jurnal untuk pembayaran pertama
Tgl 8/1/05   Kendaraan....................Rp 25 juta
                                 Utang pembelian kendaraan.....Rp 15 juta
                                  Kas..................................................Rp 10 juta
Jurnal untuk angsuran I dengan bunga (10% x Rp 15 juta)
Tgl 31/12/05   Biaya bunga pemb. Kend..........Rp  1,5 juta
                            Utang pembelian kendaraan...Rp  5 juta
                             Kas........................................................Rp 6,5 juta
Jurnal untuk angsuran II dengan bunga (10% x Rp 10 juta)
Tgl 31/12/06   Biaya bunga pemb. Kend..........Rp  1 juta
                            Utang pembelian kendaraan...Rp 5 juta
                             Kas........................................................Rp 6 juta
Jurnal untuk angsuran III dengan bunga (10% x Rp 5 juta)
Tgl 31/12/07   Biaya bunga pemb. Kend..........Rp500.000,-
                            Utang pembelian kendaraan...Rp 5 juta
                             Kas........................................................Rp 5,5 juta

2.    Bunga tidak dinyatakan secara eksplisit
Contoh:
Misalkan angsuran dibayarkan tiap tgl 31 Desember sebesar Rp6.245.235,- sebanyak 3 kali.
Jadi total kas yang dikeluarkan adalah sebesar Rp28.735.705,- (Rp10 juta + [3xRp6.245.235,-]). Ada selisih sebesar Rp3.735.705,- dari harga tunai. Dari sini diperhitungkan tingkat bunga sebesar 12% (trial and error).


Tanggal
Jumlah
Biaya Bunga
Utang
Pokok Utang
8/1/05
31/12/05
31/12/06
31/12/07
-
Rp6.245.235,-
Rp6.245.235,-
Rp6.245.235,-
-
12%xRp15.000.000=Rp1.800.000
12%xRp10.554.765=Rp1.266.572
12%xRp 5.576.102=Rp   669.133
-
Rp4.445.235
Rp4.978.663
Rp5.576.102
Rp15.000.000
Rp10.554.765
Rp  5.576.102
-
Jumlah
Rp18.735.705
Rp3.735.705
Rp15000.000


Jurnal untuk pembayaran pertama
Tgl 8/1/05   Kendaraan...........Rp25.000.000
                             Utang pemb. Kend............Rp15.000.000
                             Kas.......................................Rp10.000.000
Jurnal untuk pembayaran angsuran I
Tgl 31/12/05   Biaya bunga pemb. Kend....Rp1.800.000
                       Utang pemb. Kend..............Rp4.445.235
                             Kas..........................................Rp6.245.235
Jurnal untuk pembayaran angsuran II
Tgl 31/12/05   Biaya bunga pemb. Kend....Rp1.226.572
                       Utang pemb. Kend..............Rp4.978.663
                             Kas..........................................Rp6.245.235
Jurnal untuk pembayaran angsuran III
Tgl 31/12/05   Biaya bunga pemb. Kend....Rp   669.132
                       Utang pemb. Kend..............Rp5.576.102
                             Kas..........................................Rp6.245.235

c. Pembelian aktiva tetap berwujud secara gabungan (lumpsum)
Pencatatan harga gabungan harus dialokasikan ke tiap jenis aktiva tetap berwujud berdasarkan nilai wajar (harga pasar) masing-masing aktiva tetap tersebut.
Contoh:
PT. Top membeli tanah, bangunan pabrik dan mesin dengan total harga Rp 600.000.000,-. Biaya administrasi dan biaya persiapan sampai aktiva tetap tersebut siap digunakan adalah Rp25.000.000,-.
Pada tanggal pembelian, harga pasar masing-masing aktiva adalah:
3     Tanah.................................................Rp 450.000.000
4     Bangunan pabrik..............................Rp 200.000.000
5     Mesin.................................................Rp 250.000.000
Jumlah         Rp 900.000.000

§ Jurnal untuk pembelian tanah, pabrik dan mesin secara lumpsum
Tanah..........................................Rp312.500.000
Bangunan pabrik.......................Rp138.888.889
Mesin..........................................Rp173.611.111
          Kas............................................................Rp625.000.000
         
          Perhitungan alokasi:

         



2. Aktiva tetap berwujud yang diperoleh dari pertukaran

  

Dimana:
Nilai pertukaran = Kas yang diterima + Nilai wajar aktiva

a.  Pertukaran aktiva tidak serupa-terdapat laba pertukaran
PT. Bumi membeli tanah dengan pembayaran kas sebesar Rp20.000.000,- dan sebuah mobil bekas. Pada saat transaksi, nilai buku mobil adalah Rp35.000.000,- (harga perolehan Rp40.000.000,- dan akumulasi depresiasi Rp5.000.000,-) dan harga pasar mobil sebesar Rp37.000.000,- sedangkan harga pasar tanah adalah Rp35.000.000,-.
§ Jurnal untuk tukar tambah mobil dengan tanah
Tanah............................................Rp57.000.000,-
Akumulasi Depresiasi mobil.....Rp  5.000.000,-
     Laba pertukaran aktiva tetap berwujud......Rp  2.000.000,-
     Kendaraan............................................................Rp40.000.000,-
Kas.........................................................................Rp20.000.000,-

b.  Pertukaran aktiva tidak serupa-terdapat rugi pertukaran
Bila pada contoh PT Bumi diatas, harga pasar mobil adalah Rp30.000.000,-, maka:
§ Jurnal untuk tukar tambah mobil dengan tanah
Tanah..................................................................Rp50.000.000,-
Akumulasi Depresiasi mobil...........................Rp  5.000.000,-
Rugi pertukaran aktiva tetap berwujud......Rp  5.000.000,-
     Kendaraan........................................................................Rp40.000.000,-
Kas.....................................................................................Rp20.000.000,

c.   Pertukaran aktiva serupa-terdapat rugi pertukaran dan tidak ada penerimaan kas
PT. Mae hendak menukar kendaraan dinas karyawannya dengan yang baru. Nilai buku kendaraan lama adalah Rp25.000.000,- (harga perolehan Rp32.000.000,- dan akumulasi depresiasi Rp7.000.000,-). Harga tunai kendaraan baru adalah Rp 40.000.000,-, dengan pengeluaran kas oleh PT. Mae sebesar Rp20.000.000.
§ Jurnal untuk tukar tambah kendaraan
Kendaraan (baru)...........................................Rp40.000.000,-
Akum. Depresiasi kendaraan (lama)..........Rp  7.000.000,-
Rugi pertukaran aktiva tetap berwujud..Rp   5.000.000,-
     Kendaraan (lama)..................................................Rp32.000.000,-
     Kas...........................................................................Rp20.000.000,-

d.  Pertukaran aktiva serupa-terdapat rugi pertukaran dan tidak ada penerimaan kas
Bila pada contoh PT Mae diatas, pengeluaran kas untuk menukar mobil sebesar Rp10.000.000,-, maka:
§ Jurnal untuk tukar tambah kendaraan
Kendaraan (baru)...........................................Rp35.000.000,-
Akum. Depresiasi kendaraan (lama)..........Rp  7.000.000,-
     Kendaraan (lama)..................................................Rp32.000.000,-
     Kas...........................................................................Rp10.000.000,-
* Pada pertukaran aktiva serupa, apabila terjadi kerugian, maka kerugian harus segera diakui. Tapi apabila timbul laba, maka pengakuan laba harus ditunda.

e.  Pertukaran aktiva seruap-ada penerimaan kas
PT. Jazz menukar lemari dengan yang lebih sederhana. Harga perolehan komputer lama Rp2.500.000,- dan telah didepresiasikan sebesar Rp500.000,-. Harga tunai lemari baru adalah Rp2.250.000,- Dari transaksi ini PT.Jazz menerima kas sebesar Rp250.000,-.
§ Jurnal untuk tukar tambah komputer
Kas.........................................................Rp  250.000,-
Perabot kantor-lemari (baru).........Rp1.800.000,-
Akumulasi depr perabot toko.........Rp   500.000,-
     Laba penjualan lemaari..................................Rp     50.000,-*
     Perabot toko-lemari (lama)...........................Rp2.500.000,-

* Bag. Laba yang boleh diakui:

  

3. Aktiva tetap berwujud yang diperoleh melalui pertukaran dengan surat berharga
Contoh:
PT. Birdie “membeli” mesin yang “dibayar” dengan 1.500 lembar saham biasa. Nilai nominal per lembar saham adalah Rp20.000. Harga pasar mesin pada tanggal transaksi adalah Rp35.000.000
§  Jurnal “pembelian” mesin yang “dibayar” dengan 1.500 lembar saham biasa
Mesin...................................Rp35.000.000
       Modal saham biasa.....................................Rp30.000.000
       Agio saham biasa........................................Rp  5.000.000

4. Aktiva tetap berwujud yang diperoleh dari pemberian (donasi) atau hasil temuan.
     Contoh:
     PT. Lestari mendapatkan sumbangan kendaraan dengan harga pasar sebesar Rp9.000.000.
§  Jurnal untuk penerimaan sumbangan kendaraan
       Kendaraan.............................................Rp9.000.000
              Modal donasi.........................................................Rp9.000.000
Apabila ada sejumlah biaya yang harus ditanggung oleh PT. Lestari, misalnya ongkos balik nama sebesar Rp1.500.000. maka:
§  Jurnal untuk biaya administrasi balik nama
       Modal donasi....................................Rp1.500.000
              Kas.........................................................................Rp1.500.000
           
Inisiasi II


SAUDARA MAHASISWA, sudahkah anda membaca Modul 2 BMP EKMA 4313 anda? Mari kita mengkaji materi di modul tersebut!!

DEPRESIASI DAN PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP

Berbicara mengenai depresiasi, maka depresiasi adalah salah satu dari tiga istilah penyusutan yang kita gunakan. Penyusutan, ialah berkurangnya manfaat ekonomis suatu aktiva tetap selama masa penggunaannya.Penyusutan meliputi:
1      Depresiasi , istilah penyusutan untuk aktiva tetap berwujud
2     Deplesi, istilah penyusutan untuk aktiva sumber alam
3     Amortisasi, istilah penyusutan untuk aktiva tetap tidak berwujud

Keempat faktor ini harus anda pahami sebelum menghitung biaya penyusutan:
1.        Harga Perolehan (HP): Keseluruhan pengeluaran yang layak dibebankan untuk memperoleh suatu aktiva tetap
2.       Umur Ekonomis (i): Umur aktiva tetap sejak siap digunakan sampai pada waktu aktiva tetap tersebut secara ekonomis sudah tidak menguntungkan lagi untuk dipergunakan terus.
3.       Nilai sisa/residu (NR): Nilai aktiva tetap setelah habis umur ekonomisnya atau jumlah yang diharapkan akan diperoleh melalui penjualan aktiva yang bersangkutan setelah pemberhentian pemakaian.
4.       Metode Penyusutan
Sedangkan dalam pencatatannya, jurnal depresiasi adalah sebagai berikut:
Contoh:
Biaya Depresiasi Peralatan Kantor       Rp. 50.000
          Akumulasi depresiasi Peralatan Kantor          Rp. 50.000.

Saat tutup buku, akumulasi ini akan menjadi pengurang harga aktiva tetap pada laporan neraca:
NERACA
Aktiva Tetap
     Peralatan Kantor           200.000
     Ak.penyusutan               (50.000)
                                          150.000



METODE PENYUSUTAN

Metode penyusutan adalah cara mengalokasikan harga perolehan sebagai biaya operasional sepanjang umur aktiva. Hasil perhitungannya adalah biaya depresiasi (Dep) per tahun dari aktiva tetap tersebut.

METODE AKTIFITAS
Dalam metode aktivitas, umur ekonomis aktiva tetap diukur berdasarkan jumlah jam kerja atau jumlah produk yang mampu diberikan oleh aktiva tetap tersebut.
Rumus:         Jumlah jam/unit yang dihasilkan x ( HP – NR)
                  Total jam / unit yang dihasilkan

Contoh,
PT ISO MANTHEP membeli mesin pengaduk adonan dengan harga faktur Rp 250.000.000, biaya pemasangan dan biaya lain yang dikapitalisasikan Rp 30.000.000. Mesin tersebut diperkirakan dapat memproduksi sebanyak 5.000.000 unit kue selama umur ekonomisnya. Pada tahun 2005 diproduksi kue sebanyak 500.000 unit. Nilai residu mesin adalah Rp 20.000.000. Buat jurnal penyusutan mesin yang dicatat PT ISO MANTHEP
       
        Dari soal tersebut diketahui:
        HP = Rp 250.000.000 + Rp 30.000.000 = Rp 280.000.000
        NR= Rp 40.000.000
        HP – NR = Rp 280.000.000 - Rp 20.000.000 = Rp 260.000.000

        Unit yang dihasilkan th 2005 = 500.000 unit.
        Total Unit yang dihasilkan = 5.000.000 unit

        Dep = 500.000    unit x Rp 260.000.000
                 5.000.000 unit
              = Rp26.000.000
        Jadi Jurnalnya adalah
Biaya Depresiasi Mesin Pengaduk Adonan      Rp. 26.000.000
       Akumulasi depresiasi Mesin Pengaduk Adonan Rp. 26.000.000

Bagaimana Saudara, apakah anda bias memahami dengan baik Metode Aktifitas?


METODE GARIS LURUS.
Adalah metode yang paling mudah. Digunakan apabila suatu aktiva tetap memiliki penyusutan yang relatif tetap setiap tahunnya.

Contoh: Dengan soal diatas, apabila diketahui umur ekonomis (i)  Mesin Pengaduk Adonan adalah 5 tahun, maka:

Penyusutan per tahun selama 5 tahun adalah:
          HP – NR  Rp.260.000.000  =  Rp. 52.000.000
             i                     5

Jadi Jurnalnya per tahun:
Biaya Depresiasi Mesin Pengaduk Adonan      Rp. 52.000.000
          Akumulasi depresiasi Peralatan Kantor          Rp. 52.000.000

Sekarang Marilah kita lihat Program Depresiasi dengan Metode Garis Lurus ini. Perhatikanlah bahwa depresiasi per tahun besarnya tetap, mulai dari tahun I sampai dengan umur mesin tersebut habis!

Program Depresiasi dengan Metode Garis Lurus (dalam ribuan)
Tahun
Harga Perolehan
Depresiasi
/tahun
Akumulasi
Depresiasi (total depresiasi yang telah terjadi)
Nilai Buku Akhir Tahun
(HP – Akumulasi)
0
280.000
-
-
280.000
1
280.000
52.000
52.000
228.000
2
280.000
52.000
52.000+52.000=104.000
176.000
3
280.000
52.000
52.000+52.000+52.000
= 156.000
124.000
4
280.000
52.000
52.000+52.000+52.000
+52.000= 208.000
72.000
5
280.000
52.000
52.000+52.000+52.000
+52.000+52.000= 260.000
20.000




DEPRESIASI DENGAN PEMBEBANAN MENURUN

Pada metode diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan nilai buku pada tahun tertentu kita selalu menggunakan Harga Perolehan Aktiva tersebut. Seperti pada metode garis lurus, diatas untuk mendapatkan nilai buku setiap tahun, kita selalu mengurangkan Rp. 280.000.000 dengan akumulasi depresiasi pada tahun yang bersangkutan.

Hal ini tidak terjadi pada depresiasi pembebanan menurun. Pada metode ini, nilai buku terakhir lah yang dikurangi dengan akumulasi penyusutan tahun tersebut untuk mendapatkan nilai buku selanjutnya, dan seterusnya. Cobalah perhatikan 3 metode pembebanan dibawah ini.

METODE SALDO MENURUN BERGANDA (DOUBLE DECLINING BALANCE)

Rumus mencari persentase depresiasi tiap tahun adalah

2/umur ekonomis X Nilai Buku  atau 2 kali tarip depresiasi garis lurus.

Contoh: dari soal diatas
HP = Rp 250.000.000 + Rp 30.000.000 = Rp 280.000.000
Umur ekonomis = 5 tahun

1      Tarif depresiasi garis lurus = 52.000.000    = 0.2
                                            260.000.000
     Depresiasi/ tahun saldo menurun berganda = 2 x 0,2 = 0,4
2     Atau 2/ umur ekonomis = 2/5 = 0,4

Yang perlu diperhatikan pada Metode ini:
1.     Biaya depresiasi tahun pertama diperhitungkan dengan menggunakan Harga Perolehan, tanpa dikurangi nilai sisa.
2.    Biaya depresiasi untuk tahun terakhir, tidak dihitung berdasarkan tarif (0,4 x Nilai buku), melainkan dengan mengurangi nilai buku tahun tersebut dengan nilai residu.

Depresiasi tahun I = 2/5 x Rp. 280.000.000
                            = 0,4 x  Rp. 280.000.000
                              = Rp. 112.000.000.

Program Depresiasi dengan Metode Saldo Menurun Berganda(dalam ribuan)
Tahun
Harga Perolehan
Depresiasi
/tahun
0,4 x NB
Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku Akhir Tahun
(HP – Akumulasi)
1
280.000
112.000
112.000
168.000
2
280.000
67.200
179.200
100.800
3
280.000
40.320
219.520
60.480
4
280.000
24.192
243.712
36.288
5
280.000
36.288 – 20.000 = 16.288
260.000
20.000


Depresiasi tahun II  = 0,4 x  Rp. 168.000.000
                                 = Rp. 67.200.000.

Depresiasi tahun III = 0,4 x  Rp. 100.800.000
                                  = Rp.40.320.000.

Depresiasi tahun IV = 0,4 x  Rp.60.480.000
                                = Rp.24.192.000.

Depresiasi tahun V = 36.288 – 20.000 = 16.288

METODE JUMLAH ANGKA TAHUN
Untuk mencari depresasi per tahun, pertama-tama kita jumlahkan umur penggunaan aktiva tersebut.
Karena n pada soal diatas adalah 5 tahun, maka:  1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15.

HP = Rp 250.000.000 + Rp 30.000.000 = Rp 280.000.000
NR= Rp 20.000.000
HP – NR = Rp 280.000.000 - Rp 20.000.000 = Rp 260.000.000

Depresiasi tahun 1 = 5/15 x Rp 260.000.000= Rp. 86.666.667
Depresiasi tahun 2 = 4/15 x Rp 260.000.000 = Rp. 69.333.333
Depresiasi tahun 3 = 3/15 x Rp 260.000.000= Rp. 52.000.000
Depresiasi tahun 4 = 2/15 x Rp 260.000.000= Rp. 34.666.667
Depresiasi tahun 5 = 1/15 x Rp 260.000.000 = Rp. 17.333.333

Program Depresiasi dengan Metode Jumlah Angka Tahun
Tahun
Harga Perolehan
Depresiasi
/tahun

Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku Akhir Tahun
(HP – Akumulasi)
1
280.000
86.666.667
86.666.667
193.333.333
2
280.000
69.333.333
156.000.000
124.000.000
3
280.000
52.000.000
208.000.000
72.000.000
4
280.000
34.666.667
242.666.667
37.333.333
5
280.000
17.333.333
260.000.000
20.000.000



METODE SALDO YANG MENURUN
Persentase untuk depresiasi (r) =
Berdasarkan contoh diatas :
HP = Rp 250.000.000 + Rp 30.000.000 = Rp 280.000.000
NR= Rp 2.000.000
 n  = 5 tahun.

r =

   = 1-

   = 1 – 0,59

   = 0,41

Sehingga depresiasi tahun I = 0,41 x Rp. 280.000.000
                                              = Rp 114.829.522,5  dan seterusnya lalu dibuatkan program depresiasi, yang caranya sama dengan metode pembebanan menrun berganda.

Selain beberapa metode diatas, ada beberapa aktiva tetap yang karena jumlah unitnya yang banyak membutuhkan metode khusus untuk memperkirakan depresiasinya.  Salah satu metode khusus tersebut adalah :


METODE PERSEDIAAN
Digunakan untuk aktiva tetap yang jumlah unitnya banyak namun harga perolehannya rendah. Pada akhir periode ditaksir harga pasar aktiva tersebut dab digunakan sebagai nilai buku.

Depresiasi Periode 200x = Nilai buku awal periode+Pembelian aktiva tetap
                                          pada tahunX-Nilai aktiva tetap yang diberhen-
                                          tikan tahunX –Nilai buku akhir tahunX
INVESTASI

v  Investasi dalam Sekuritas Utang

A.  PENGERTIAN SEKURITAS UTANG

Sekuritas  utang  (debt  securities)  merupakan  instrumen  yang menunjukkan  hubungan  kreditor  dengan  suatu  perusahaan.  Sekuritas  utang meliputi  sekuritas  pemerintah,  obligasi,  utang  yang  dapat  dikonversikan (convertible  debt),  commercial  paper,  dan  lain-lain.  Piutang  dagang  dan piutang  pinjaman  bukan  merupakan  sekuritas  utang  karena  tidak  memenuhi definisi sekuritas.
Investasi  dalam  sekuritas  utang  dikelompokkan  menjadi  tiga  kategori untuk  tujuan  akuntansi  dan  pelaporan.  Ketiga  kategori  tersebut  adalah sebagai berikut:
1.  Dimiliki sampai jatuh tempo (held-to-maturity).
Sekuritas utang yang menurut maksud dan kemampuan perusahaan akan dimiliki sampai jatuh tempo.
2.  Perdagangan (trading).
Sekuritas  utang  yang  dibeli  dan  dimiliki  terutama  untuk  dijual  dalam waktu  dekat  untuk  menghasilkan  keuntungan  atas  selisih  harga  jangka pendek.
3.  Tersedia untuk dijual (available for sale).
Sekuritas  utang  yang  tidak  diklasifikasikan  sebagai  sekuritas  yang dimiliki sampai jatuh tempo atau perdagangan.

B.  PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK SETIAP KATEGORI SEKURITAS UTANG
Biaya  yang  diamortisasi  (amortized  cost)  adalah  biaya  perolehan/akuisisi  yang  disesuaikan  untuk  memperhitungkan  amortisasi  diskonto  atau premi,  jika  dianggap  tepat.  Nilai  wajar  (fair  value)  adalah  jumlah  yang digunakan  bila  instrumen  keuangan  dipertukarkan  dalam  transaksi  berjalan antara  pihak-pihak  yang  berkeinginan,  selain  dari  penjualan  terpaksa  atau
likuidasi.

C.  PENGHITUNGAN SEKURITAS UTANG UNTUK SETIAP KATEGORINYA
1.  Sekuritas Utang yang Dimiliki hingga Jatuh Tempo
Hanya sekuritas utang yang dapat diklasifikasikan sebagai sekuritas yang dimiliki  sampai  jatuh  tempo.  Hal  ini  dikarenakan,  menurut  definisinya, sekuritas ekuitas tidak mempunyai tanggal jatuh tempo. Sekuritas utang harus diklasifikasikan  sebagai  dimiliki  hingga  jatuh  tempo  hanya  jika  entitas  yang melaporkan  mempunyai  (a)  niat  positif,  dan  (b)  kemampuan  untuk
memiliki  sekuritas  itu  sampai  jatuh  tempo.  Perusahaan  tidak  boleh mengklasifikasikan  sekuritas  utang  sebagai  sekuritas  yang  dimiliki  sampai jatuh  tempo  jika  berniat  untuk  memiliki  sekuritas  tersebut  selama  periode waktu  yang  tidak  terbatas.  Demikian  pula  jika  perusahaan  mengantisipasi perubahan  suku  bunga,  risiko  mata  uang  asing,  kebutuhan  likuiditas  atau alasan  manajemen  aktiva  kewajiban  lainnya  maka  sekuritas  itu  tidak  boleh
diklasifikasikan sebagai dimiliki sampai jatuh tempo.
2.  Sekuritas Utang yang tersedia untuk dijual
Investasi  dalam  sekuritas  utang  yang  termasuk  dalam  kategori  tersedia untuk  dijual  dilaporkan  sebesar  nilai  wajar.  Keuntungan  dan  kerugian  yang belum  terealisasi  (unrealized  holding  gain  and  loss)  yang  berkaitan  dengan perubahan nilai wajar sekuritas utang yang tersedia untuk dijual dicatat dalam akun keuntungan atau kerugian kepemilikan yang belum terealisasi. Akun ini dilaporkan  sebagai  laba  komprehensif  lainnya  dan  sebagai  komponen
terpisah  dari  ekuitas  pemegang  saham  sampai  benar-benar  terealisasi.  Jadi, perubahan nilai wajar tidak dilaporkan sebagai bagian dari laba bersih sampai sekuritas  itu  dijual.  Pendekatan  ini  mengurangi  volatilitas  (ketidakstabilan) laba bersih.
3.  Sekuritas Utang Perdagangan
Sekuritas  perdagangan  (trading  securities)  dimiliki  oleh  suatu perusahaan  dengan  maksud  untuk  dijual  dalam  periode  waktu  yang  singkat. Perdagangan  dalam  konteks  ini  berarti  pembelian  dan  penjualan  sering dilakukan  dan  sekuritas  perdagangan  digunakan  untuk  menghasilkan  laba dari  selisih  harga  jangka  pendek.  Periode  kepemilikan  atas  sekuritas  ini
biasanya  kurang  dari  3  bulan  dan  mungkin  lebih  sering  diukur  dalam hitungan  hari  atau  jam.  Sekuritas  ini  dilaporkan  pada  nilai  wajar,  dengan keuntungan  dan  kerugian  kepemilikan  yang  belum  terealisasi  (unrealized holding  gains  and  losses)  dilaporkan  sebagai  bagian  dari  laba  bersih.  Setiap diskonto  atau  premi  tidak  diamortisasi.


Investasi dalam Sekuritas Saham

A.  PENGERTIAN SEKURITAS SAHAM
Sekuritas Ekuitas (equity securities) digambarkan sebagai sekuritas yang menunjukkan  bagian  kepemilikan,  seperti  saham  biasa,  saham  preferen  atau modal  saham  lainnya.  Sekuritas  ekuitas  juga  mencakup  hak  untuk memperoleh  atau  melepaskan  bagian  kepemilikannya  dengan  harga  yang sudah  disepakati  atau  yang  dapat  ditentukan,  seperti  warran,  hak,  serta  opsi beli (call option) atau opsi jual (put option). Sedangkan, sekuritas utang yang dapat  dikonversi,  dan  saham  preferen  yang  dapat  ditebus  tidak  diperlakukan sebagai  sekuritas ekuitas. Pada saat  sekuritas ekuitas dibeli, harga pokoknya mencakup harga beli sekuritas tersebut ditambah komisi pialang dan ongkos lainnya yang berkaitan dengan pembelian itu.
Sejauh  mana  suatu  perusahaan  yang  berperan  sebagai  investor memperoleh  bagian  atas  saham  biasa  perusahaan  lain  (investee),  biasanya menentukan  perlakuan  akuntansi  untuk  investasi  tersebut  sesudah  akuisisi. Investasi  oleh  satu  perusahaan  dalam  saham  biasa  perusahaan  lain  dapat diklasifikasikan  menurut  persentase  saham  dengan  hak  suara  investee  yang dimiliki investor.
1.        Kepemilikan kurang dari 20% (metode nilai  wajar/fair value) – investor mempunyai hak pasif.
2.        Kepemilikan  antara  20%  dan  50%  (metode  ekuitas)  –  investor mempunyai pengaruh yang signifikan. 
3.        Kepemilikan lebih dari 50% (laporan konsolidasi) – investor mempunyai hak mengendalikan.

B.  PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK SETIAP KATEGORI SEKURITAS SAHAM

1.  Sekuritas Saham yang Dimiliki Kurang dari 20%.
Seperti telah disebutkan, sekuritas ekuitas dicatat pada biaya (cost) atau harga  pokok/cost-nya.  Dalam  beberapa  kasus,  biaya/cost  sukar  ditentukan. Misalnya, sekuritas ekuitas yang diperoleh dalam pertukaran dengan imbalan nonkas  (properti  atau  jasa)  harus  dicatat  pada  (a)  nilai  wajar  imbalan  yang diberikan  atau  (b)  nilai  wajar  sekuritas  yang  diterima,  mana  yang  dapat ditentukan  dengan  lebih  jelas.  Tidak  adanya  nilai  yang  dapat  ditentukan dengan  jelas  untuk  properti  atau  jasa  atau  harga  pasar  sekuritas  yang diperoleh mungkin mengharuskan digunakannya penilaian atau estimasi agar diperoleh suatu harga pokok (cost).
Apabila  seseorang  memiliki  hak  kurang  dari  20%  maka  diasumsikan bahwa  investor  itu  mempunyai  pengaruh  yang  kecil  atau  tidak  mempunyai pengaruh  terhadap  investee.  Dalam  hal  ini,  jika  harga  pasar  tersedia  maka investasi  itu  dinilai  dan  dilaporkan  setelah  akuisisi  dengan  menggunakan metode  nilai  wajar  (fair  value  method).  Metode  nilai  wajar  mengharuskan perusahaan  mengklasifikasikan  sekuritas  ekuitas  pada  saat  akuisisi  sebagai sekuritas  yang  tersedia  untuk  dijual  atau  sekuritas  perdagangan.  Oleh karena  sekuritas  ekuitas  tidak  mempunyai  tanggal  jatuh  tempo  maka sekuritas  ini  tidak  dapat  diklasifikasikan  sebagai  sekuritas  yang  dimiliki sampai jatuh tempo.
2.  Sekuritas Saham yang dimiliki antara 20 – 50%
Walaupun  perusahaan  investor  dapat  memiliki  saham  perusahaan
investee  kurang  dari  50%,  hal  ini  menyebabkan  perusahaan  investor  tidak memiliki kendali hukum terhadap perusahaan investee. Akan tetapi, meskipun investor  berinvestasi  dalam  saham  dengan  hak  suara  kurang  dari  50%, mereka  masih  mempunyai  kemampuan  untuk  menerapkan  pengaruh  yang signifikan  terhadap  kebijakan  operasi  dan  keuangan  investee.  Untuk memberikan  pedoman  akuntansi  bagi  para  investor  jika  saham  biasa  dengan hak suara yang dimiliki adalah 50% atau kurang, dan untuk mengembangkan definisi  operasional  dari  “pengaruh  yang  signifikan”  maka  APB  dalam Opinion No. 18 menyatakan bahwa kemampuan untuk menjalankan pengaruh itu  dapat  ditunjukkan  dalam  beberapa  cara.
Sering  kali,  diperlukan  pertimbangan  dalam  menentukan  apakah  suatu investasi  sebesar  20%  atau  lebih  menghasilkan  “pengaruh  yang  signifikan” terhadap kebijakan investee. Pada akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an,  meningkatnya  jumlah  upaya  merger  dan  pengambilalihan  “secara  paksa” telah  menciptakan  situasi  di  mana  “pengaruh  yang  signifikan”  atas  investee sulit ditentukan. Oleh karenanya, FASB memberikan contoh-contoh kasus, di mana  investasi  sebesar  20%  atau  lebih  tidak  memungkinkan  investor  untuk melaksanakan  “pengaruh  yang  signifikan”.  Berikut  ini  contoh-contoh  yang diberikan FASB.
Investee  menentang akuisisi sahamnya oleh investor. Misalnya, investee mengajukan  tuntutan  terhadap  investor  atau  mengajukan  pengaduan kepada badan regulator pemerintah.
a.         Investor dan investee menandatangani suatu perjanjian yang menyatakan bahwa  investor  akan  melepaskan  hak-hak  pemegang  saham  yang signifikan.  Hal  ini  biasanya  terjadi  jika  investee  menolak  upaya pengambilalihan  oleh  investor,  dan  investor  setuju  untuk  membatasi kepemilikan sahamnya dalam investee.
b.        Bagian  kepemilikan  investor  tidak  menghasilkan  “pengaruh  yang signifikan”  karena  kepemilikan  mayoritas  atas  investee  terpusat  pada sekelompok kecil pemegang saham yang mengoperasikan investee tanpa memperhatikan pandangan investor lainnya.
c.         Investor  membutuhkan  atau  menginginkan  lebih  banyak  informasi keuangan  daripada  yang  diterbitkan  investee  kepada  publik.  Kemudian, mencoba mendapatkannya dari investee, namun gagal.
d.        Investor mencoba dan gagal untuk menempatkan wakilnya dalam dewan direksi investee.

C.  METODE EKUITAS
 Dalam  metode  ekuitas  diketahui  adanya  hubungan  ekonomi  yang  nyata antara  investor  dan  investee.  Investasi  pada  awalnya  dicatat  pada  cost/biaya saham  yang  diperoleh,  kemudian  disesuaikan  pada  setiap  periode  untuk memperhitungkan  perubahan  aktiva  bersih  investee,  yaitu  jumlah  tercatat investasi  secara  periodik  ditambah  (dikurangi)  dengan  bagian proporsional  investor  atas  laba  (rugi)  investee  dan  dikurangi  dengan semua  dividen  yang  diterima  investor  dari  investee.



Daftar Pustaka

Ikatan  Akuntan  Indonesia.  (1999).  Standar  Akuntansi  Keuangan-Buku  Satu. 
Jakarta: Salemba Empat. 

Kieso,  Donald  E.  dan  Jerry  J.  Weygandt.  (2004).  Intermediate  Accounting.
Edisi ke-11. New York: John Wiley & Sons.

INISIASI 4

UTANG JANGKA PENDEK DAN UTANG JANGKA PANJANG


UTANG JANGKA PENDEK

A.  PENGERTIAN UTANG JANGKA PENDEK (UTANG LANCAR)

Utang  lancar  merupakan  kewajiban  yang  pelunasannya  menggunakan sumber  daya  yang  diklasifikasikan  sebagai  aktiva  lancar  atau  dengan pembentukan utang lancar baru. Definisi ini diterima secara luas karena tidak fokus hanya pada salah satu jenis industri dan  menghubungkan antara  utang lancar  dan  aktiva  lancar.  Selain  itu,  definisi  tersebut  hanya  secara  tersirat memasukkan  unsur  siklus operasi  yang  memang di  setiap industri terkadang berbeda-beda.  Secara  umum,  siklus  operasi  didefinisikan  sebagai  periode waktu  antara  akuisisi  barang  dan  jasa  dalam  proses  manufaktur  dengan realisasi  kas  yang  dihasilkan  dari  penjualan.  Berikutnya  akan  dijelaskan jenis-jenis utang lancar.

B.  JENIS-JENIS UTANG LANCAR

Ada banyak jenis utang lancar. Berikut ini jenis-jenis utang lancar  yang dibahas dalam modul ini.
1.  Utang Usaha
Utang  usaha  muncul  karena  adanya  perbedaan  waktu  penerimaan  jasa atau  akuisisi  aktiva  dengan  pembayarannya.  Biasanya  perbedaan  waktu tersebut dijelaskan dalam syarat penjualan  yang biasanya 30 hingga 60 hari.
Misalnya, 2/10 dan n/30.
Kebanyakan, sistem akuntansi didesain untuk mencatat kewajiban dalam pembelian barang adalah ketika barang tersebut diterima atau, secara praktik, ketika  bukti  invoice  diterima.  Namun,  sering  kali  terjadi  penundaan pencatatan barang dan kewajiban yang terkait. Pada prinsipnya jika hak milik telah  berpindah  kepada  pembeli  sebelum  barang  diterima  maka  transaksi tersebut  harus  dicatat  saat  perpindahan  hak  milik  barang  tersebut.  Perhatian juga harus diberikan pada transaksi yang terjadinya berdekatan dengan akhir periode  akuntansi  dan  awal  periode  selanjutnya.  Penting  sekali  untuk menentukan  bahwa  pencatatan  barang  yang  diterima  (inventory)  merupakan perjanjian  dalam  bentuk  kewajiban  (utang  lancar),  dan  keduanya  harus dicatat dalam periode yang tepat.

2.  Wesel Bayar Jangka Pendek
Wesel  Bayar  merupakan  janji  tertulis  untuk  membayar  sejumlah  uang pada  tanggal  tertentu  di  kemudian  hari.  Biasanya  muncul  akibat  dari pembelian,  pembiayaan,  dan  lain  sebagainya.  Wesel  bisa  diklasifikasikan jangka  panjang  atau  jangka  pendek,  tergantung  tanggal  jatuh  tempo pembayarannya.  Wesel  bisa  berupa  interest-bearing  atau  zero-interest-bearing.

3.  Utang Dividen Kas
Utang  Dividen  Kas  merupakan  jumlah  yang  harus  dibayar  oleh perusahaan  kepada  para  pemegang  sahamnya  setelah  mendapatkan persetujuan  dari  dewan  direksi.  Pada  tanggal  pengumuman,  perusahaan mengasumsikan  kewajiban  yang  menempatkan  para  pemegang  saham sebagai kreditor sebesar jumlah yang diumumkan. Oleh karena utang dividen kas  biasanya  selalu  dibayar  dalam  kurun  waktu  kurang  dari  satu  tahun (biasanya 3 bulan), utang dividen dikategorikan utang jangka pendek.

4.  Deposito yang Dapat Dikembalikan
Sering  kali  suatu  perusahaan  meminta  kepada  konsumennya  untuk membayar  sejumlah  uang  sebagai  jaminan  atas  barang  perusahaan  yang berada  di  tangan  konsumen.  Biasanya,  keadaan  semacam  ini  terjadi  dalam kontrak  sewa.  Uang  yang  dibayar  konsumen  tersebut  disebut  dengan deposito.  Contoh  lain  deposito  adalah  uang  jaminan  yang  dibayar  oleh karyawan  kepada  perusahaan  atas  barang-barang  perusahaan  yang  dipinjam oleh  si  karyawan,  seperti  kunci,  kendaraan,  dan  properti  lainnya.  Kedua deposito  di  atas  akan  dikembalikan  apabila  kontrak  telah  selesai.  Dengan demikian,  pengklasifikasian  deposito  sebagai  jangka  pendek  atau  jangka panjang tergantung dari kontrak yang disepakati kedua belah pihak.

5.  Pendapatan Diterima di Muka
Perusahaan  yang  bergerak  di  bidang  media  cetak,  seperti  majalah  dan koran  biasanya  menerima  cek  dari  konsumennya  untuk  berlangganan. Perusahaan  penerbangan  juga  sering  menjual  tiketnya  jauh  hari  sebelum pemberangkatan. Selain kedua perusahaan tadi, restoran juga kadang-kadang menjual  semacam  tiket  kepada  konsumennya  untuk  bisa  ditukarkan  atau digunakan  untuk  membeli  makanan.
C.  AKUNTANSI UNTUK KONTINJENSI
 Kontinjensi  didefinisikan  oleh  FASB  sebagai  suatu  kondisi  yang  belum pasti  bagi  perusahaan  apakah  kemungkinannya  untung  (gain  contingencies) atau  rugi  (loss  contingencies)  apabila  suatu  kejadian  di  masa  mendatang terjadi  atau  gagal  terjadi.  Berdasarkan  definisi  tersebut,  kontinjensi  dibagi menjadi  dua  jenis,  yaitu  (1)  untung  (gain  contingencies)  dan  (2)  rugi  (loss contingencies).
1.  Gain Contingencies
Gain  Contingencies  merupakan  klaim  atau  hak  untuk  menerima  aktiva (atau  pengurangan  kewajiban/utang)  yang  kemungkinannya  belum  pasti. Beberapa contohnya, antara lain berikut ini.
a.  Kemungkinan  menerima  uang  kas  yang  berupa  pemberian,  donasi, bonus, dan lain-lain.
b.  Kemungkinan pengembalian pajak dari pemerintah.
c.  Kemungkinan menang di pengadilan

Para  akuntan  sepakat  untuk  melakukan  kebijakan  konservatif.  Gain contingencies  tidak  dicatat.  Akan  tetapi,  kejadian-kejadian  tersebut diungkapkan dalam catatan laporan keuangan apabila ada kemungkinan yang sangat  tinggi  hal  tersebut  terealisasi.  Akibatnya,  sangatlah  jarang  kita memperoleh  informasi  tentang  gain  contingencies  dalam  suatu  laporan keuangan maupun catatan kakinya.
2.  Loss Contingencies
Loss  contingencies  merupakan  situasi,  di  mana  perusahaan  menghadapi kemungkinan  kerugian.  Kewajiban  yang  muncul  akibat  dari  loss contingencies  ini  disebut  dengan  kewajiban  kontinjen  (Contingent Liabilities). Ketika loss contingencies terjadi, kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa di masa  mendatang untuk  menentukan  munculnya kewajiban  kontinjen  dapat  dikategorikan  sebagai  probable,  reasonable probable, dan remote. Berikut penjelasan dari FASB:
a.       Probable
Kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa sangat tinggi.
b.      Reasonable Probable
Kemungkinan  terjadi  atau  tidak  terjadinya  suatu  peristiwa  lebih  dari remote, tetapi kemungkinannya tidak terlalu tinggi.
c.       Remote
Kemungkinan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa sangat rendah.



UTANG JANGKA PANJANG

A.  KARAKTERISTIK DAN PENGERTIAN UTANG JANGKA PANJANG

Utang  Jangka  Panjang  merupakan  utang  perusahaan  yang  akan  jatuh tempo  lebih  dari  satu  periode  akuntansi.  Contoh  Utang  Jangka  Panjang adalah Utang Wesel Jangka Panjang dan Utang Obligasi.  Utang Jangka Panjang merupakan utang yang memerlukan proses formal dalam  pembentukannya,  yaitu  persetujuan  dari  dewan  direksi  dan/atau pemegang  saham.  Selain  itu,  utang  jangka  panjang  selalu  dibarengi  dengan perjanjian  atau  batasan-batasan  tertentu  untuk  perlindungan  baik  kreditor maupun debitur (peminjam).

B.  UTANG WESEL JANGKA PANJANG
 Perbedaan Utang Wesel jangka panjang dan Utang Wesel Jangka Pendek adalah  pada  saat  jatuh  temponya.  Perbedaan  utang  wesel  jangka  panjang dengan  utang  obligasi  adalah  utang  wesel  jangka  panjang  tidak  tersedia  di pasar  sekuritas  umum.  Sedangkan,  persamaan  antara  utang  wesel  jangka panjang  dengan  utang  obligasi  adalah  keduanya  dinilai  pada  present  value future  interest  dan  arus  kasnya,  dengan  diskonto  atau  premium  yang diamortisasi sepanjang umur wesel atau obligasi.
1.  Wesel Diterbitkan pada Nilai Pari
Apabila suatu wesel diterbitkan pada saat tingkat suku bunga efektif dan besarnya bunga yang tercantum pada nilai pari adalah sama maka tidak akan ada  diskon  ataupun  premium  sehingga  wesel  tersebut  dikatakan  diterbitkan pada nilai pari.
2.  Wesel Diterbitkan Tidak Pada Nilai Pari
a.  Zero-interest-bearing notes
Sama  halnya  dengan  utang  wesel  jangka  pendek,  Zero-interest-bearing notes  bukan  berarti  utang  wesel  jangka  panjang  yang  tanpa  bunga,  tetapi bunga  tetap  harus  dibayar  walaupun  itu  implisit  dan  disebut  dengan  tingkat bunga  implisit.  Tingkat  bunga  implisit  merupakan  tingkat  bunga  hasil  dari perbandingan  kas  (cash)  yang  diterima  dengan  jumlah  (amount)  yang diterima  di  masa  mendatang.  Selisih  antara  nilai  pari  utang  wesel  dengan nilai  yang  di-present  value-kan  (kas  yang  diterima)  dicatat  sebagai  diskon dan diamortisasi ke biaya bunga sepanjang umur utang wesel tersebut.

C.  UTANG OBLIGASI
Utang  obligasi  pada  dasarnya  merupakan  suatu  pernyataan  pengakuan utang berbunga secara tertulis, sekaligus surat kesanggupan untuk membayar bunga  secara  periodik  dan  pelunasannya.  Misalkan,  Anda  memiliki  satu lembar  SUO  (Surat  Utang  Obligasi)  yang  dikeluarkan  oleh  PT  Libra  maka berarti  PT  Libra  secara  tertulis  mengakui  berutang  kepada  Anda.  Sekaligus PT  Libra  menyatakan  sanggup  untuk  membayar  bunga  obligasi  secara periodik kepada Anda dan sanggup melunasi pada saatnya.
Secara  umum  di  dalam  SUO  terdapat  informasi  mengenai  hal-hal
berikut:
1.        Nilai  nominal,  yaitu  nilai  yang  tercantum  di  dalam  SUO.  Nilai  ini merupakan jumlah yang diakui oleh perusahaan penerbit obligasi sebagai pokok  utang  yang  akan  dilunasi  pada  saat  jatuh  tempo.  Walaupun  pada umumnya  jumlah  yang  akan  dibayar/dilunasi  oleh  perusahaan  penerbit obligasi  adalah  sebesar  nilai  nominalnya,  akan  tetapi  ada  juga  obligasi yang  pelunasannya  tidak  sebesar  nilai  nominalnya.
2.        Tingkat bunga, yaitu besarnya bunga per tahun yang disanggupi penerbit obligasi untuk dibayarkan secara periodik kepada pemegangnya. Tingkat bunga  ini  biasanya  dinyatakan  dalam  persentase  tertentu  dari  nilai nominalnya.
3.        Periode pembayaran bunga, merupakan jangka waktu pembayaran bunga yang  menjadi  kewajiban  perusahaan  penerbit  obligasi.  Periode pembayaran  bunga  ini  bisa  setahun  sekali,  tengah  tahunan,  triwulanan, dan  sebagainya.  Periode  pembayaran  bunga  tengah  tahunan,  artinya bunga obligasi dibayarkan setiap setengah tahun sekali.
4.        Tanggal  jatuh  tempo  adalah  saat  obligasi  harus  dilunasi  oleh penerbitnya.  Sebagai  contoh,  obligasi  PT  Libra  yang  Anda  miliki mempunyai  tanggal  jatuh  tempo  1  Oktober  2020.  Ini  berarti  obligasi tersebut  sudah  harus  dilunasi  oleh  PT  Libra  pada  tanggal  1  Oktober 2020.

D.  PENERBITAN SURAT UTANG OBLIGASI
Di  pengantar  sudah  disinggung  bahwa  timbulnya  utang  obligasi  karena perusahaan  memerlukan  adanya  tambahan  dana  untuk  membiayai  suatu investasi yang memerlukan dana cukup besar. Sering kali hasil dari investasi tersebut  baru  bisa  dinikmati  setelah  beberapa  tahun  sehingga  perusahaan tidak bisa memenuhi dana dengan utang jangka pendek. Dan karena besarnya kebutuhan  dana  tersebut,  perusahaan  juga  tidak  bisa  menghimpunnya  hanya dari  satu  investor  saja.

E.  JENIS UTANG OBLIGASI
Ada beberapa jenis obligasi yang bisa dibedakan dari beberapa tinjauan, antara lain berikut ini.
1.  Dilihat dari bukti kepemilikan obligasi, ada 2 jenis obligasi, yaitu berikut ini.
a.  Obligasi atas nama (registered bonds). 
Obligasi  ini  memerlukan  pendaftaran  nama  pemiliknya  dalam catatan  perusahaan.  Jika  terjadi  pemindahan  pemilikan,  perusahaan penerbit  harus  mengetahuinya.  Dalam  hal  ini,  obligasi  yang  dijual dibatalkan dan diterbitkan obligasi baru atas nama pemilik baru.
b.  Obligasi  atas  unjuk  (beared  bonds)  atau  obligasi  kupon  (coupon bonds).
Obligasi  ini  mudah  sekali  pemindahan  pemilikannya.  Oleh  karena orang  yang  bisa  menunjukkan  surat  utang  obligasi  tersebut  atau yang  menyerahkan  kupon  yang  memang  disertakan  dianggap sebagai pemiliknya dan berhak atas pembayaran bunga.


2.  Dilihat dari cara pelunasannya, obligasi dapat dibedakan menjadi 3, yaitu berikut ini.
a.  Obligasi bersyarat (term bonds) atau straight bonds, ordinary bonds.
Adalah  obligasi  yang  jatuh  temponya  pada  satu  tanggal.  Pelunasan terhadap  obligasi  ini  dilakukan  seluruhnya  pada  tanggal  jatuh temponya.
b.  Obligasi berseri (serial bonds).
Adalah  obligasi  yang  pelunasannya  dilakukan  secara  bertahap. Dengan kata lain, obligasi ini mempunyai tanggal jatuh tempo yang tidak sama untuk masing-masing serinya.
c.  Obligasi terpanggil (callable bonds) atau redeemable bonds. 
Obligasi  jenis  ini  saat  pelunasannya  tergantung  pada  perusahaan yang  menerbitkan.  Jika  perusahaan  penerbit  menginginkan  untuk mengurangi  utang  obligasinya  maka  ia  akan  memanggil  dan memberitahukan  kepada  pemilik  obligasi  mengenai  bagian  obligasi yang  akan  dilunasi.  Perusahaan,  kemudian  melunasi  sebesar  bagian utang  obligasi  tersebut.  Bunga  atas  obligasi  yang  dilunasi dibayarkan lagi.
3.  Dilihat dari ada tidaknya jaminan, dikenal 2 jenis obligasi, yaitu berikut ini:
a.  Obligasi terjamin (secured bonds).
Obligasi  ini  diterbitkan  dengan  disertai  jaminan  berupa  harta tertentu dari perusahaan penerbit.
b.  Obligasi tak terjamin (unsecured bonds) atau debenture bonds.
Obligasi  jenis  ini  tidak  dijamin  dengan  harta  tertentu  dari perusahaan penerbit. Tetapi walaupun begitu secara hukum obligasi ini  dijamin  dengan  setiap  harta  perusahaan  yang  belum  dijadikan jaminan untuk keperluan lain.
4.  Obligasi  Terjamin  ditinjau  dari  harta  untuk  menjaminnya  dibedakan menjadi berikut.
a.  Obligasi hipotek (mortgage bonds).
Obligasi  ini  dijamin  dengan  aktiva  tetap  tertentu  milik  perusahaan penerbit.
b.  Obligasi jaminan kepercayaan (collateral trust bonds).
Obligasi  jenis  ini  pengeluarannya  dijamin  dengan  surat  berharga perusahaan lain yang dimiliki perusahaan penerbit
c.  Obligasi bergaransi (guaranteed bonds).
Merupakan obligasi yang dijamin oleh pihak ketiga.
5.  Ditinjau dari pembayaran bunganya, obligasi bisa dibedakan:
a.  Obligasi laba (income bonds).
Pada obligasi jenis ini pembayaran bunga dilakukan jika perusahaan penerbit memperoleh laba dalam operasinya.
b.  Obligasi penghasilan (revenue bonds).
Obligasi  ini  pembayaran  bunganya  diambilkan  dari  penghasilan tertentu perusahaan penerbit.


AKUNTANSI UTANG OBLIGASI

A.  PERMASALAHAN AKUNTANSI UTANG OBLIGASI
Setelah  Anda  mengenal  apa  itu  Utang  Obligasi  dengan  beragam jenisnya,  tentunya  Anda  akan  bertanya,  bagaimana  perlakuan  akuntansi terhadap  utang  obligasi  tersebut.  Perlakuan  akuntansi  tentunya  meliputi  cara pencatatannya  sampai  bagaimana  menyajikan  dalam  laporan  keuangan.

B.  AKUNTANSI UTANG OBLIGASI SAAT PENGELUARANNYA
Maksud  dari  subbahasan  ini  adalah  untuk  menjelaskan  bagaimana perusahaan  penerbit  obligasi  harus  mencatat  atas  pengeluaran  dan  penjualan obligasi. Di dalam melakukan pencatatan terhadap pengeluaran obligasi ada 2 metode yang bisa digunakan, yaitu berikut ini.
1.      Pencatatan dilakukan hanya terhadap obligasi yang terjual saja.
2.      Pencatatan  dilakukan  tidak  hanya  terhadap  obligasi  yang  terjual  saja, tetapi juga dilakukan terhadap obligasi yang masih belum terjual.

Kedua  metode  tersebut  dipakai  karena  sering  kali  obligasi  yang  sudah disetujui  untuk  dikeluarkan  belum  atau  tidak  langsung  terjual  semuanya.

C.  AKUNTANSI OBLIGASI SELAMA DALAM PEREDARAN

Permasalahan  akuntansi  terhadap  obligasi  selama  dalam  peredarannya meliputi berikut ini.
1.  Pengakuan dan pembayaran bunga periodik.
2.  Amortisasi terhadap Premium atau Diskonto Utang Obligasi.

 LABA DITAHAN DAN OPSI SAHAM

Seperti  telah  Anda  ketahui,  Laba  yang  Ditahan  merupakan  bagian  dari modal  perusahaan  yang  berbentuk  Perseroan  Terbatas  (PT).  Dikatakan demikian  karena  untuk  perusahaan  yang  bukan  berbentuk  PT,  pos  yang sesuai dengannya akan mempunyai istilah dan karakteristik yang berlainan.
Telah  disinggung  di  dalam  modul  mengenai  Modal  Saham,  Laba  yang Ditahan  merupakan  elemen  modal  yang  berasal  dari  hasil  kegiatan  usaha perusahaan.  Laba  yang  ditahan  termasuk  Hak  dari  Pemegang  Saham (Owner’s  Equity),  oleh  sebab  itu  pada  saatnya  nanti  perusahaan  harus mengembalikannya kepada pemegang saham.
Pada  dasarnya,  tujuan  investor  menanamkan  kekayaannya  ke  suatu perusahaan  dengan  membeli  sahamnya  adalah  agar  ia  dapat  memperoleh pendapatan  dari  kekayaan  yang  ditanamnya  itu.  Sehubungan  dengan  itu, perusahaan  berkewajiban  untuk  mengelola  kekayaan  investor  yang
dipercayakan  kepadanya  sehingga  kekayaan  tersebut  dapat  semakin berkembang. Pengembangan kekayaan yang dikelola perusahaan diwujudkan dengan  laba  yang  diperoleh  dari  hasil  kegiatan  usahanya.  Dengan  demikian, sudah  selayaknya  apabila  perusahaan  harus  membagikan  laba  yang diperolehnya  kepada  para  pemegang  saham.



Dividen

Kita telah  menyinggung di depan bahwa dividen  merupakan  Laba  yang Ditahan  perusahaan  yang  dibagikan  ke  masing-masing  pemegang saham sebanding dengan jumlah lembar saham yang dimilikinya. Sedangkan besarnya total dividen  yang dapat dibagikan oleh perusahaan, pada dasarnya sebesar saldo Laba yang Ditahan yang dimiliki perusahaan, selama tidak ada pembatasan  terhadap  penggunaan  Laba  yang  Ditahan  untuk  tujuan  khusus.
Pembagian  dividen  kebanyakan  berakibat  berkurangnya  aktiva
Perusahaan,  yang  dapat  berupa  kas  atau  aktiva  lainnya.  Meskipun  demikian, ada kemungkinan pembagian dividen hanya akan mengakibatkan berubahnya komposisi  modal  perusahaan,  tanpa  mempengaruhi  aktiva.  Kemungkinan-kemungkinan  ini  tergantung  dari  jenis  dividen  yang  dibagikan.  Tentunya Anda  bertanya,  ada  berapa  jenis  dividen  yang  dapat  dibagikan  oleh perusahaan?  Secara  umum,  jenis  dividen  yang  dapat  dibagikan  perusahaan adalah berikut ini.
1.  Dividen Kas (Cash Dividends).
2.  Dividen Aktiva Nonkas (Property Dividends).
3.  Dividen Utang (Script Dividends).
4.  Dividen Likuidasi (Liquidating Dividends).
5.  Dividen Saham (Stock Dividends).
Di  antara  kelima  jenis  dividen  tersebut,  yang  paling  banyak  digunakan perusahaan  adalah  dividen  kas.  Oleh  karenanya,  dividen  kas  biasa  disebut dengan dividen.


Pembatasan Laba yang Ditahan

A.  PENGERTIAN
Anda  telah  dijelaskan  bahwa  pada  dasarnya  laba  yang  diperoleh perusahaan  harus  diserahkan  kepada  pemegang  saham  sebagai  return  atau pendapatan  pemilik  atas  kekayaan  yang  ditanamkan  pada  perusahaan.  Oleh karena  itu,  apabila  ada  laba  belum  dibagikan  dan  terakumulasi  dalam  Laba yang  Ditahan  maka  jumlah  akumulasi  laba  tadi  merupakan  jumlah maksimum  yang  dapat  dibagikan  kepada  pemegang  saham  sebagai  dividen. Namun  demikian,  dengan  pertimbangan  tertentu  serta  ada  ketentuan-ketentuan  hukum  yang  mengaturnya,  perusahaan  perlu  melakukan pembatasan  terhadap  penggunaan  Laba  yang  Ditahan  untuk  tujuan-tujuan khusus.
Terdapat  banyak  penyebab  dan  tujuan  perusahaan  melakukan pembatasan  terhadap  Laba  yang  Ditahan.  Tujuan-tujuan  yang  paling  umum adalah berikut ini.
1.        Menjaga berkurangnya modal yang disetor.
2.        Memenuhi perjanjian utang.
3.        Menjaga  kemungkinan  kerugian  yang  harus  ditanggung  perusahaan untuk masa yang akan datang.
4.        Untuk keperluan perencanaan keuangan perusahaan.

B.  PEMBATASAN LABA YANG DITAHAN UNTUK MENJAGA BERKURANGNYA MODAL DISETOR
Modal yang disetor atau ditanam para pemegang saham pada perusahaan merupakan jaminan bagi kreditor atas kekayaan yang dipinjamkannya kepada perusahaan.  Besarnya  modal  yang  disetor  ini  merupakan  salah  satu  aspek yang  sering  kali  dipertimbangkan  oleh  kreditor  dalam  menentukan  berapa jumlah  yang dapat dipinjamkan kepada perusahaan. Sehubungan dengan itu, untuk  menjaga  kepentingan  kreditor  terhadap  perusahaan,  sudah sewajarnyalah  jika  perusahaan  menjaga  agar  jangan  sampai  terjadi pengurangan jumlah modal yang disetor. 
Seperti  yang  telah  Anda  ketahui  dari  modul  terdahulu,  treasury  stock merupakan  saham  yang  ditarik  kembali  sementara  oleh  perusahaan  yang menerbitkannya.  Pembelian  saham  sendiri  berupa  treasury  stock  untuk sementara jelas berakibat berkurangnya modal yang disetor, sampai treasury stock dijual kembali. Misalkan, oleh karena suatu hal, penurunan modal yang disetor karena pembelian treasury stock menjadi tidak sementara lagi, artinya penurunan  modal  yang  disetor  menjadi  bersifat  permanen  maka  hal  ini  jelas mengingkari  prinsip  yang  dikemukakan  di  atas.  Untuk  menghindari terjadinya  hal  tersebut  maka  bersamaan  dengan  pembelian  treasury  stock, perusahaan perlu membuat cadangan terhadap penurunan modal yang disetor, yaitu  dengan  jalan  melakukan  pembatasan  terhadap  Laba  yang  Ditahan sebesar  harga  perolehan  treasury  stock.  Dengan  demikian,  bila  terjadi
penurunan  modal  yang  disetor  akibat  pembelian  treasury  stock  menjadi bersifat  permanen  maka  Laba  yang  Ditahan  yang  telah  dibatasi penggunaannya tersebut dapat dikapitalisasi menjadi modal yang disetor.

C.  PEMBATASAN LABA YANG DITAHAN UNTUK MEMENUHI PERJANJIAN UTANG
Untuk  menjaga  kredibilitas  perusahaan,  serta  untuk  meyakinkan  calon kreditor  bahwa  utang  perusahaan  kepadanya  pasti  akan  dilunasi  pada waktunya,  perusahaan  menyisihkan  sebagian  kasnya  sebagai  dana  untuk melunasi  utangnya  tersebut.  Penyisihan  dana  ini  dilakukan  perusahaan dengan  cara  membuat  pembatasan  terhadap  penggunaan  kas  dengan membentuk  dana  untuk  tujuan  yang  dimaksud.  Pembatasan  kas  untuk keperluan  pelunasan  utang,  pada  umumnya  diberlakukan  terhadap  utang jangka panjang.

D.  PEMBATASAN LABA YANG DITAHAN UNTUK KEMUNGKINAN TIMBULNYA KERUGIAN DI MASA YANG AKAN DATANG
 Apabila perusahaan menderita suatu kerugian dalam jumlah yang cukup besar maka mungkin sekali berakibat mengurangi jumlah modal yang disetor. Untuk  menghindari  keadaan  demikian,  perusahaan  perlu  melakukan pembatasan  terhadap  Laba  yang  Ditahan  untuk  tujuan  tersebut,  begitu terdapat  indikasi  kerugian  itu  akan  diderita  oleh  perusahaan.  Misalkan, perusahaan mengalami proses pengadilan dalam sengketa dengan pihak lain, yang  diperkirakan  perusahaan  akan  kalah  dan  harus  memenuhi  klaim  pihak lawan.  Atau  dapat  juga  bila  terdapat  kecenderungan  adanya  deflasi  terus-menerus  yang  menyebabkan  perusahaan  perlu  menyesuaikan  harga  pokok persediaannya, dan sebagainya.

E.  PEMBATASAN LABA YANG DITAHAN UNTUK PERENCANAAN KEUANGAN PERUSAHAAN
Untuk  meningkatkan  kapasitasnya,  perusahaan  senantiasa  melakukan pengembangan-pengembangan.  Pengembangan  perusahaan  dengan sendirinya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kebutuhan tambahan dana tersebut  bisa  didapat  dari  kreditor  ataupun  tambahan  setoran  modal  dari pemegang  saham.  Akan  tetapi,  pemenuhan  kebutuhan  dana  dengan  kedua cara  tersebut  sering  kali  sulit  untuk  dilaksanakan.  Pemenuhan  dana  yang paling  gampang  dilaksanakan  dan  paling  pasti  direalisasikan  adalah  berasal dari  laba  perusahaan  itu  sendiri.  Untuk  itu,  laba  yang  diperoleh  perusahaan dari  kegiatan  usahanya  sudah  selayaknya  jika  tidak  dibagikan  seluruhnya kepada  pemegang  saham  sebagai  dividen.



F.  PENYAJIAN PEMBATASAN LABA YANG DITAHAN DI DALAM NERACA
Pembatasan  terhadap  Laba  yang  Ditahan  harus  diungkapkan  di  dalam laporan  keuangan  akhir  tahun.  Tujuan  pengungkapan  atas  dibatasinya penggunaan  Laba  yang  Ditahan  adalah  agar  pihak  yang  berkepentingan, terutama  pemegang  saham,  mengetahui  berapa  jumlah  Laba  yang  Ditahan yang dapat dibagikan sebagai dividen.
Anda  telah  mengetahui  bahwa  terhadap  pembatasan  Laba  yang  Ditahan dapat dilakukan pencatatan berupa catatan nonformal atau dapat pula dicatat di  dalam  pembukuan  perusahaan.  Untuk  yang  terakhir  ini  diperlukan  jurnal untuk  mencatat  pembatasan  Laba  yang  Ditahan.  Jika  perusahaan  mencatat Laba  yang  Ditahan  ke  dalam  pembukuan  maka  di  dalam  Neraca  Laba Ditahan tersebut dipisahkan menjadi 2 bagian, yaitu berikut ini.
1.  Laba Ditahan Apropriasi (dengan pembatasan).
2.  Laba Ditahan Bebas (tanpa pembatasan).



Hak Beli Saham

A.  PENGERTIAN HAK BELI SAHAM
Di  dalam  Pengantar,  Anda  telah  dijelaskan  secara  sepintas  mengenai timbulnya  hak  beli  saham.  Hak  beli  saham  timbul  berkenaan  dengan dilakukannya  emisi  saham  oleh  perusahaan.  Emisi  saham  itu  dilakukan  oleh perusahaan  dalam  rangka  untuk  menambah  jumlah  modal  sahamnya.  Anda tentu  bertanya,  mengapa  emisi  saham  harus  diikuti  dengan  adanya  hak  beli saham? Sebuah pertanyaan yang bagus!
Pada  dasarnya  hak  beli  saham  tersebut  timbul  karena  adanya  hak  yang dimiliki  oleh  pemegang  saham  untuk  dapat  mempertahankan  hak  pemilikan relatifnya  terhadap  perusahaan.  Anda  telah  mengetahui  hak  tersebut  dari modul  sebelumnya  yang  istilah  asingnya  adalah  preemptive  right.  Dengan adanya  hak  ini  maka  apabila  perusahaan  menerbitkan  dan  menjual  saham barunya maka pemegang saham mempunyai hak untuk membeli saham baru tersebut  sebanyak  proporsional  dengan  nominal  saham  yang  dimilikinya. Apabila  hak  ini  dimanfaatkan  oleh  pemegang  saham,  artinya  dia  membeli saham  baru  yang  ditawarkan  kepadanya  maka  pemegang  saham  itu mempunyai  hak  pemilikan  relatif  yang  tetap  besarnya  terhadap  perusahaan baik sebelum terjadi emisi saham maupun sesudahnya. 

B.  HAK BELI SAHAM UNTUK PEMEGANG SAHAM
Dari  uraian  sebelumnya  Anda  telah  mengetahui  bahwa  pada  dasarnya hak  beli  saham  timbul  karena  dimilikinya  preemptive  right  oleh  para pemegang saham. Hak beli saham diberikan kepada pemegang saham bentuk Sertifikat Hak Beli Saham. Telah dijelaskan bahwa sertifikat hak beli saham untuk  para  pemegang  saham  diterbitkan  pada  saat  perusahaan  melakukan emisi  saham.  Jumlah  lembar  sertifikat  hak  beli  saham  diterbitkan  sebanyak jumlah  lembar  saham  yang  telah  beredar  sebelum  emisi  saham.  Dengan demikian,  jumlah  lembar  sertifikat  hak  beli  saham  yang  dibagikan  kepada tiap  pemegang  saham  adalah  sebanyak  jumlah  lembar  saham  yang dimilikinya. 
Sertifikat  Hak  Beli  Saham  pada  umumnya  mengandung  informasi mengenai hal-hal berikut.
1.        Harga  saham  baru  yang  ditawarkan  perusahaan  kepada  pemegang  Hak Beli Saham, untuk tiap lembar saham baru tersebut.
2.        Masa  berlakunya  Sertifikat  Hak  Beli  Saham,  yaitu  batas  waktu  terakhir untuk dapat menggunakan sertifikat tersebut.
3.        Jumlah  lembar  Sertifikat  Hak  Beli  Saham  yang  dapat  digunakan  untuk membeli tiap lembar saham.



C.  HAK BELI SAHAM UNTUK PEMBELI SURAT BERHARGA PERUSAHAAN
Sertifikat  Hak  Beli  Saham  dapat  pula  diterbitkan  dan  diberikan  kepada pembeli  surat  berharga  yang  diterbitkan  perusahaan,  seperti  Surat  Utang Obligasi  ataupun  Saham.  Biasanya  pemberian  Sertifikat  Hak  Beli  Saham kepada  pembeli  surat  berharga  perusahaan  bertujuan  untuk  dapat  menjual surat berharganya dengan harga pasar yang lebih tinggi.
Dengan  adanya  nilai  ekonomis  pada  Sertifikat  Hak  Beli  Saham  maka Sertifikat Hak Beli Saham dapat disebut sebagai surat berharga pula. Dengan demikian,  apabila  nilai  ekonomis  Sertifikat  Hak  Beli  Saham  tadi  bisa ditentukan  secara  pasti  maka  penjualan  surat  berharga  yang  disertai  dengan Sertifikat Hak Beli Saham pada dasarnya merupakan penjualan terhadap dua jenis surat berharga. Oleh  karena itu,  hasil penjualan  surat  berharga tersebut perlu  dialokasikan  kepada  masing-masing  jenis  surat  berharga  yang  dijual, seperti  halnya  pada  penjualan  surat  berharga  secara  lumpsum  pada  modul terdahulu.

D.  HAK BELI SAHAM UNTUK KARYAWAN PERUSAHAAN 
Kita  telah  membahas  secara  cukup  terperinci  tentang  pemberian  Hak Beli  Saham  kepada  para  pemegang  saham  dan  pembeli  surat  berharga perusahaan.  Hak  Beli  Saham,  seperti  yang  telah  kita  bicarakan  pada  bagian sebelumnya,  juga  bisa  diberikan  kepada  karyawan  perusahaan.  Hak  Beli Saham untuk karyawan perusahaan biasa disebut dengan Opsi Saham (Stock Option).
Sebagaimana  halnya  dengan  Hak  Beli  Saham  lainnya,  opsi  saham merupakan  hak  istimewa  yang  diberikan  kepada  karyawan  perusahaan  yang memenuhi  kriteria  tertentu  untuk  dapat  membeli  saham  perusahaan  dalam jumlah dan harga tertentu selama jangka waktu yang telah ditetapkan. Harga saham  yang  ditawarkan  kepada  karyawan  pemegang  opsi  saham  disebut Harga  Opsi  (Option  Price).  Sedangkan  masa  berlakunya  opsi  saham  disebut Periode Opsi (Option Period). 

LABA PER SAHAM


Penilaian  kinerja  suatu  perusahaan  merupakan  hal  yang  sangat  penting baik  bagi  investor,  calon  investor,  maupun  manajemen.  Bagi  investor penilaian  kinerja  menjadi  dasar  apakah  akan  melepas,  menambah,  atau mempertahankan investasinya. Bagi calon investor, penilaian kinerja menjadi dasar  keputusan  untuk  berinvestasi  atau  tidak.  Dan  bagi  manajemen, penilaian kinerja menjadi dasar bonus yang diterimanya dan keputusan untuk menentukan kebijakan-kebijakan di masa depan. Dengan kata lain, penilaian kinerja  suatu  perusahaan  merupakan  dasar  yang  sangat  penting  dalam pembuatan keputusan oleh banyak pihak.
Metode-metode  dalam  penilaian  kinerja  suatu  perusahaan  banyak  sekali jenisnya,  baik  yang  bersifat  finansial  maupun  yang  bersifat  nonfinansial. Secara nonfinansial, kinerja perusahaan bisa dilihat dari loyalitas konsumen, kualitas  limbah,  corporate  social  responsibilities,  dan  lain  sebagainya. Sedangkan,  secara  finansial,  kinerja  perusahaan  bisa  diukur  dari  item-item yang  ada  di  laporan  keuangan.  Selain    itu,  yang  paling  banyak  digunakan adalah  analisis  rasio  keuangan.  Cara  kerja  analisis  rasio  keuangan  adalah
dengan  membandingkan  antar  satu  item  yang  ada  di  laporan  keuangan dengan item lainnya. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah Laba per saham (Earnings per Share/EPS).
EPS  merupakan  rasio  yang  membandingkan  antara  total  laba  yang diperoleh  perusahaan  dengan  saham  biasa  yang  beredar  sehingga  dapat diketahui nilai laba yang diperoleh setiap lembar saham. Semakin tinggi rasio ini maka menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memberikan laba bagi pemegang  sahamnya  yang  semakin  baik.


LABA PER SAHAM DASAR

Besarnya  laba  dan  arus  kas  yang  dihasilkan  oleh  perusahaan  di  masa depan  merupakan  faktor  penting  penentu  nilai  perusahaan  tersebut. Menilai  perusahaan  secara  keseluruhan  merupakan  hal  yang  krusial  ketika terjadi negosiasi merger, buyouts, dan kejadian lain yang serupa – merupakan kejadian yang jarang terjadi selama masa hidup perusahaan. Dalam penilaian sehari-hari,  banyak  analis  memilih  fokus  pada  nilai  saham  biasa  secara individu  (per  lembar).  Untuk  tujuan  ini,  mengetahui  pendapatan  yang
diperoleh  setiap  saham  akan  sangat  membantu.  Karena  faktor  tersebutlah, laba per saham dihitung.
Data  laba  per  saham  biasanya  dilaporkan  dalam  keterangan  finansial yang  banyak  digunakan  oleh  para  pemegang  saham  dan  investor  potensial dalam mengevaluasi profitabilitas perusahaan. Laba per saham (Earnings per Share/EPS)  menunjukkan  laba  yang  dihasilkan  oleh  setiap  lembar  saham biasa. Jadi, EPS dilaporkan hanya untuk saham biasa.

A.  STRUKTUR MODAL SEDERHANA
Perusahaan  yang  struktur  modalnya  dianggap  sederhana  adalah  yang hanya terdiri dari saham biasa atau termasuk juga saham biasa potensial yang merupakan  hasil  konversi  atau  yang  bisa  melemahkan  (dilute)  laba  per lembar  saham  biasa.  Struktur  modal  dikatakan  kompleks/rumit  jika didalamnya  termasuk  sekuritas  yang  dapat  memberikan  efek  dilutif  (dilutive effect) terhadap laba per lembar saham biasa. Perhitungan EPS untuk struktur
modal  yang  sederhana  melibatkan  dua  items  (selain  laba  bersih),  yaitu: dividen  saham  preferen  dan  jumlah  saham  yang  beredar  dengan menggunakan rata-rata tertimbang.
1.  Dividen Saham Preferen
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa EPS terkait dengan laba per lembar  saham  biasa.  Ketika  perusahaan  mempunyai  saham  beredar  yang berupa  saham  biasa  dan  saham  preferen  maka  dividen  saham  preferen periode  saat  ini  harus  dikurangkan  dari  laba  bersih  untuk  memperoleh  laba yang  tersedia  bagi  pemegang  saham  biasa.  Rumusan  untuk  menghitungnya adalah sebagai berikut:


Dalam  melaporkan  informasi  EPS,  dividen  saham  preferen  harus
dikurangkan  dari  setiap  komponen  laba  (dari  operasional  berjalan  dan  laba
sebelum  item  luar  biasa)  dan  akhirnya  dari  laba  bersih  untuk  memperoleh
laba  yang tersedia bagi pemegang  saham biasa.


2.  Rata-rata Tertimbang Jumlah Saham yang Beredar
Dalam  semua  perhitungan  EPS,  rata-rata  tertimbang  jumlah  saham beredar  selama  periode  berjalan  menjadi  dasar  bagi  jumlah  per  saham  yang dilaporkan.  Saham  yang  diterbitkan  dan  dibeli  selama  periode  berjalan, berdampak  pada  jumlah  saham  beredar  dan  harus  di  rata-rata  tertimbangkan dengan  membaginya  ke  dalam  periode-periode  beredarnya.
3.  Dividen Saham dan Stock Splits (Pemecahan Saham)
Ketika  terjadi  pembagian  dividen  saham  dan  stock  split  (pemecahan saham),  perhitungan  rata-rata  tertimbang  saham  beredar  perlu  untuk dilakukan  restatement  sebelum  dividen  saham  atau  split.



LABA PER SAHAM – STRUKTUR  MODAL KOMPLEKS
Satu  masalah  dalam  perhitungan  EPS  dasar  adalah  perhitungan  tersebut gagal mengantisipasi potensi dampak dilusian pada saham beredar ketika perusahaan  mempunyai  sekuritas  dilusian  (dilutive  securities).  Sekuritas dilusian  adalah  sekuritas  yang  bisa  dikonversi  ke  sahan  biasa  dan  konversi tersebut  menyebabkan  melemahnya  EPS.  Sekuritas  dilusian  menimbulkan masalah  serius  karena  jika  mereka  dikonversi  ke  saham  biasa  menimbulkan dampak yang negatif bagi nilai EPS. Efek negatif ini bisa menjadi signifikan dan,  lebih  penting  lagi,  hal  tersebut  tidak  diharapkan,  kecuali  laporan keuangan  mampu  mensinyalir  keberadaan  potensi  dampak  dilusian  dengan cara-cara tertentu.
Suatu  struktur  modal  yang  kompleks  terjadi  ketika  perusahaan mempunyai  sekuritas  yang  dapat  dikonversi,  opsi,  waran  atau  hak  lain  yang jika  dikonversi  menyebabkan  menurunnya  nilai  EPS.  Oleh  karena  itu, perusahaan  dengan  struktur  modal  yang  kompleks,  baik  EPS  dasar  maupun dilusian harus dilaporkan.

A.  LABA PER SAHAM DILUSIAN–EFEK-EFEK YANG DAPAT DIKONVERSI (CONVERTIBLE SECURITIES)
Saat terjadi konversi, sekuritas konvertibel diubah menjadi saham biasa. Metode untuk menilai dampak dilusian dalam potensi konversi terhadap EPS disebut  dengan  if-converted  method.  If-converted  method  untuk  obligasi konvertibel  menggunakan  asumsi  sebagai  berikut.  (1)  terjadinya  konversi terhadap  sekuritas  konvertibel  dilakukan  pada  awal  periode  (atau  pada  saat penerbitan  sekuritas,  jika  diterbitkan  pada  awal  periode),  dan  (2) pengeliminasian  bunga  yang  terkait.  Jadi,  denominator  –  rata-rata tertimbang  jumlah  saham  beredar  –  meningkat  dengan  bertambahnya  saham yang  diasumsikan  terbit  tersebut.

B.  LABA PER SAHAM DILUSIAN–OPSI DAN WARAN
Opsi saham dan waran yang beredar dimasukkan dalam perhitungan EPS dilusian, kecuali jika mereka bersifat antidilutive. Opsi dan warran dan yang sejenisnya  dimasukkan  dalam  perhitungan  EPS  dilusian  dengan menggunakan metode saham treasury (treasury stock method). Metode  saham  treasury  mengasumsikan  bahwa  opsi  atau  waran diterapkan,  pada  awal  tahun  (atau  tanggal  diterbitkannya  jika  diterbitkan setelah  awal  tahun)  dan  bahwa  proses  dari  diberlakukannya  opsi  dan  waran digunakan untuk membeli saham biasa dalam treasury. Jika harga berlakunya lebih rendah daripada harga pasar saham maka proses dari diterapkannya opsi dan  waran  tidak  cukup  untuk  melakukan  pembelian  kembali  (buy  back) seluruh saham.




Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright Soft Connection 2011 -2013 | Design by Dicky Veryansyah | Published by Cool Templates | Powered by Blogger.com.